Sleepmaxxing di TikTok: Optimalkan Tidur atau Malah Picu Orthosomnia? Kata Dokter
Uncategorized

Sleepmaxxing di TikTok: Optimalkan Tidur atau Malah Picu Orthosomnia? Kata Dokter

Pernah nggak sih, lo bangun tidur, langsung cek smartwatch, terus deg-degan liat skor tidur. Kalo angkanya jelek, langsung panik, “Ah, hari ini pasti bakal lemes.” Padahal secara fisik lo ngerasa cukup segar. Tapi angka di layar itu bikin lo ragu. Gue juga pernah ngalamin ini, dan rasanya aneh banget.

Nah, fenomena ini lagi viral banget di TikTok, namanya sleepmaxxing. Tagar ini udah tembus puluhan juta views, bahkan sampe 125 juta postingan di TikTok . Anak muda sekarang bukan cuma kerja keras, tapi juga tidur dengan keras. Rutinitas malam diatur sedemikian rupa: mulut ditempel plester, kamar dijaga suhu 16 derajat, minum ramuan “sleepy girl mocktail”, dan pake selimut pemberat.

Kedengerannya keren, ya? Tapi di balik tren ini, ada peringatan keras dari para dokter. Mereka bilang, sleepmaxxing ini bisa berujung pada orthosomnia—obsesi berlebihan untuk tidur sempurna yang malah bikin lo nggak bisa tidur. Ironis banget, kan? 

Dulu Gengsi Kurang Tidur, Sekarang Gengsi Tidur Nggak Sempurna

Gue inget banget, dulu budaya produktivitas memuja orang yang bisa begadang. Slogan “work hard, sleep less” jadi kebanggaan. Tapi sekarang, narasinya berbalik 180 derajat . Tidur bukan lagi aktivitas pasif, tapi “proyek” yang harus dioptimalkan. Dari yang dulunya gengsi kurang tidur, sekarang malah jadi stres kalo tidur nggak sempurna.

“Ini mencerminkan pergeseran dari glorifikasi kurang tidur ke glorifikasi rutinitas tidur yang sempurna,” kata Dr. Liora Kempler, psikolog dari Australian Psychological Society. “Tapi masalahnya, tidur itu nggak sepenuhnya bisa dikendalikan. Makin lo berusaha ngontrol, makin susah tidurnya” .

Metode Ekstrem yang Bahaya

Di TikTok, banyak banget konten sleepmaxxing yang ekstrem. Beberapa yang paling viral dan justru berbahaya:

1. Mouth Taping (plester mulut)
Ini yang paling populer. Influencer bilang ini bisa bikin lo napas lewat hidung, kurangi ngorok, dan tidur lebih nyenyak. Tapi para ahli tegas bilang: ini berbahaya! Sebuah laporan dari George Washington University nemuin bahwa klaim-klaim soal mouth taping nggak didukung bukti ilmiah . Malah, ini bisa fatal buat orang yang punya sleep apnea (gangguan napas saat tidur) tanpa sadar . “Saya bilang tegas nggak untuk mouth taping,” kata seorang spesialis tidur .

“Dalam lingkungan yang nggak terkontrol, sengaja menutup saluran napas saat tidur itu berbahaya tanpa pengawasan medis,” tegas Dr. Kempler .

2. Gantung Kepala di Atas Bantal
Ini yang paling absurd. Di China, ada teknik “gantung leher” dengan tali yang diikat ke kepala tempat tidur, buat “meregangkan” leher katanya bisa bikin tidur lebih nyenyak. Video ini bahkan sampe 11 juta views di X . Nggak usah ditanya bahayanya, ini jelas mengancam nyawa.

3. Konsumsi Suplemen Sembarangan
Melatonin dan magnesium jadi primadona. Influencer jualan “sleep gummies” dan ramuan. Tapi American Academy of Sleep Medicine justru tidak merekomendasikan melatonin untuk insomnia pada orang dewasa karena bukti medisnya nggak konsisten .

Di Inggris, melatonin cuma bisa didapat dengan resep dokter . Di Brasil, psikiater Flávia Zuccolotto juga mengingatkan, “Melatonin adalah hormon, penggunaannya sembarangan nggak bebas risiko, bisa bikin ngantuk berlebihan, pusing, mimpi buruk, sampai gangguan hormon lain” .

Data: Kebanyakan Orang Justru Stres Karena Sempurnakan Tidur

Tren ini bukan iseng. Data dari American Academy of Sleep Medicine (AASM) tahun 2025 nunjukkin:

  • 48% orang dewasa di AS (naik dari 35% di 2023) pake sleep tracker buat monitor tidur .
  • 56% orang dewasa AS udah nyoba tren tidur viral di 2025 .
  • 76% orang dewasa kehilangan tidur karena cemas sama masalah tidur . Bayangin, lo begadang karena stres mikirin kenapa lo nggak bisa tidur nyenyak. Ini siklus setan banget.

Yang lebih parah, sebuah survei AASM nemuin 81% orang Amerika kehilangan tidur karena khawatir sama masalah tidur. Ini namanya “sleep anxiety” atau orthosomnia .

Orthosomnia: Obsesi Tidur Sempurna yang Bikin Insomnia

Istilah orthosomnia mulai dikenal di kalangan medis. Ini diambil dari “ortho” (benar/lurus) dan “somnia” (tidur), mirip kayak orthorexia (obsesi makan sehat) . Bedanya, orthosomnia ini obsesi punya tidur yang “sempurna”.

Dr. Eric Zhou dari Harvard Medical School jelasin, “Tekanan untuk mendapatkan tidur sempurna itu tertanam dalam budaya sleepmaxxing. Padahal, bahkan orang yang tidurnya baik aja kadang punya malam yang buruk. Setting perfection sebagai tujuan itu masalah” .

Kathryn Pinkham, spesialis insomnia dari Inggris, nambahin, “Kekhawatiran saya dengan tren sleepmaxxing—terutama di TikTok—adalah banyak saran yang justru nggak membantu, bahkan merusak, buat orang yang punya masalah tidur beneran” .

Dampak Psikologis: Tidur Jadi KPI

Yang paling menarik dari fenomena ini adalah bagaimana sleepmaxxing ngebentuk pola pikir generasi sekarang. Tidur bukan lagi kebutuhan biologis, tapi target performa. Kayak KPI di kantor.

“Transformasi tidur jadi target performa tinggi menghasilkan frustrasi, kecemasan, dan tidur yang buruk,” kata Dr. Francisco Hora, profesor di UFBA dan koordinator Laboratorium Tidur di Hospital Portugues, Brasil .

Dr. Kempler nambahin, “Saya sering lihat klien yang ngerasa ‘gagal’ tidur karena strategi dari influencer nggak bekerja buat mereka. Mereka jadi takut banget sama konsekuensi jangka panjang dari kurang tidur, sampe nolak pergi keluar malam karena takut merusak rutinitas” .

Ini yang bikin gue mikir: tidur yang tadinya tempat pelarian dari stres, sekarang malah jadi sumber stres baru. Ironis, kan?

Common Mistakes: Jebakan yang Sering Dilakukan “Sleepmaxxer”

Dari ngobrol sama beberapa temen yang lagi demen sleepmaxxing dan baca-baca penelitian, gue nangkep beberapa kesalahan umum:

  1. Terlalu Fokus ke Skor Tracker: Ini paling sering. Bangun tidur langsung cek aplikasi, kalo skor jelek, langsung panik. “Padahal perasaan tidur cukup nyenyak,” kata Derek Antoseik, seorang sleepmaxxer yang diwawancara New York Times. “Saya bangun dan langsung liat skor saya: ‘Apakah saya tidur nyenyak?'” Akhirnya Oura Ring-nya malah bikin dia tambah stres .
  2. Mengikuti Saran Tanpa Bukti Ilmiah: Mulut diplester, pake selimut pemberat, minum magnesium—semua diikutin tanpa riset. “Banyak tips ini dari non-ahli dan nggak berdasar bukti klinis,” kata Pinkham .
  3. Mengorbankan Kehidupan Sosial demi Rutinitas: Nolak hangout malem, nolak kopi sama temen, bahkan nolak jalan-jalan karena takut “merusak” jadwal tidur. Ini tanda bahaya. “Kalo seseorang mulai menghindari komitmen sosial biar nggak keluar dari rutinitas tidur, atau nggak toleran sama satu malam yang buruk, itu indikasi hubungan yang disfungsional sama tidur,” kata Zuccolotto .

Practical Tips: Tidur Berkualitas Tanpa Obsesi

Untungnya, para ahli sepakat: rahasia tidur nyenyak itu sederhana. Nggak perlu gadget mahal atau ritual ribet.

1. Konsistensi Jadwal, Bukan Angka
“Wake up at the same time every day,” kata James Wilson, The Sleep Geek. “Badan lo butuh itu buat sehat. Nggak peduli jam berapa lo harus keluar rumah” . Yang penting konsisten, bukan sempurna.

2. Higiene Tidur Dasar
American Academy of Sleep Medicine nyaranin: jaga kamar gelap, sejuk (suhu 15-19°C), dan tenang. Hindari kafein dan alkohol menjelang tidur. Kurangi paparan layar di malam hari .

3. Hanya Tidur Kalo Ngantuk
“Saya menyarankan, ‘Pergilah ke tempat tidur hanya ketika Anda mengantuk. Jika tidak bisa tidur, bangunlah, pergi ke ruangan dengan cahaya redup, dan hanya kembali ketika kantuk datang.’ Ini membantu otak mengasosiasikan tempat tidur dengan istirahat,” kata Perin .

4. Kelola Stres, Bukan Angka
Robbins dari Harvard Medical School bilang, “Daripada terobsesi sama data, ‘lakukan usaha’ buat bikin lingkungan dan kondisi mental lo lebih tenang” .

5. CBT-I: Solusi Medis yang Terbukti
Kalo lo punya insomnia beneran, jangan coba-coba sleepmaxxing. Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia (CBT-I) adalah terapi paling efektif dan direkomendasikan sebagai lini pertama penanganan insomnia . Ini mengubah pikiran dan perilaku lo soal tidur, tanpa perlu plester mulut atau suplemen mahal.

Kesimpulan: Tidur Itu Bukan Perlombaan

Sleepmaxxing mungkin lahir dari niat baik: pengen tidur lebih nyenyak dan sehat. Tapi yang terjadi, tidur malah berubah jadi ajang pamer dan sumber kecemasan baru. Ini gejala dari generasi yang terlalu terobsesi mengontrol hidupnya, sampe waktu istirahat pun diukur dan dievaluasi seperti KPI.

Gue jadi inget kata-kata Dr. Zhou: “Memprioritaskan tidur nyenyak itu terpuji, tapi menjadikan kesempurnaan sebagai tujuan adalah masalah” .

Lo nggak perlu ikutin semua ritual ribet yang viral di TikTok. Tidur yang baik itu sederhana: kamar gelap, tenang, dan sejuk; jadwal teratur; serta pikiran yang rileks. Nggak perlu angka-angka, nggak perlu plester, nggak perlu gantung leher.

Percaya sama tubuh lo sendiri. Kalo lo bangun dan ngerasa segar, itu tidur yang cukup—meskipun skor tracker lo jelek .

Anda mungkin juga suka...